Pengertian dan Jenis Masalah Sosial

Masalah sosial merupakan kondisi yang tidak diinginkan ada di dalam masyarakat karena dapat mengganggu ketenteraman masyarakat dan diperlukan adanya tindakan sebagai hasil dari kesepakatan bersama untuk mengatasinya atau memperbaikinya. Masalah sosial dianggap sebagai persoalan karena menyangkut tata kelakuan yang bersifat immoral, berlawanan dengan hukum yang bersifat merusak. Masalah-masalah sosial tidak akan mungkin ditelaah tanpa mempertimbangkan ukuran-ukuran masyarakat mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk.

Gbr. Pesta narkoba

Masalah sosial merupakan masalah yang timbul akibat dari interaksi sosial antara individu, antara individu dengan kelompok, antara kelompok dengan kelompok. Interaksi sosial berkisar pada ukuran nilai, adat istiadat, ideologi dan tradisi yang ditandai dengan suatu proses sosial yang disosiatif. Bahkan masalah sosial timbul dari proses perkembangan masyarakat. Apalagi kalau proses perkembangan itu berlangsung dengan cepat sehingga menimbulkan keguncangan di dalam masyarakat. Sehingga masyarakat kekagetan budaya (cultural shock) dan kesenjangan budaya (cultural cultural lag).

Masalah sosial timbul karena adanya ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, di mana dapat membahayakan kehidupan kelompok sosial atau menghambat terpenuhinya keinginan-keinginan pokok warga kelompok sosial tersebut yang menyebabkan kepincangan ikatan sosial. Suatu kondisi yang normal terdapat integrasi serta keadaan yang sesuai pada hubungan-hubungan antara unsur-unsur masyarakat atau unsur-unsur kebudayaan. Apabila antara unsur-unsur tersebut terjadi bentrokan atau ketidaksesuaian, maka hubungan-hubungan sosial terganggu yang mengakibatkan kegoyahan dalam kehidupan kelompok.


Jenis-jenis masalah sosial

1. Kemiskinan.

Kemiskinan adalah suatu keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung,pendidikan dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan juga merupakan masalah global.

Kemiskinan merupakan kendala dalam masyarakat ataupun dalam ruang lingkup yang lebih luas. Kemiskinan menjadi masalah sosial karena ketika kemiskinan mulai mewabah atau bertambah banyak maka angka kriminalitas kemiskinan sebagai pangkal penyebab masalah sosial dan ekonomi. Kemiskinan menjadi masalah sosial ketika stratifikasi dalam masyarakat menciptakan tingkatan atau garis-garis pembatas. Sehingga adanya kejanggalan atau batas pemisah dalam interaksi atau komunikasi antara orang yang berada di tingkatan yang di bawah dan di atasnya.

Kemiskinan juga sangat berpengaruh terhadap lingkungan hidup yang akhirnya akan merusak lingkungan itu sendiri. Penduduk miskin yang terdesak akanmencari lahan-lahan kritis atau lahan-lahan konservasi sebagai tempat pemukiman. Lahan-lahan yang seharusnya berfungsi sebagai kawasan penyangga atau mempunyai fungsi konservasi tersebut akan kehilangan fungsi lingkungannya setelah dimanfaatkan untuk kawasan pemukiman. Akibat berikutnya, maka akan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan lingkungan. Kemiskinan juga memunculkan kantong-kantong slum dengan segala permasalahannya.

Gbr. Perkampungan Kumuh

2.Kriminalitas.

Istilah kriminalitas berasal dari bahasa Inggris crime yakni kejahatan. Kejahatan secara formal dapat diartikan sebagai suatu tingkah laku yang melanggar norma-norma sosial dan undang-undang pidana, bertentangan dengan moral kemanusiaan, bersifat merugikan, sehingga ditentang oleh masyarakat.

Dalam pandangan sosiologis, kejahatan diartikan sebagai semua bentuk ucapan dan tingkah laku yang melanggar norma-norma sosial, serta merugikan dan mengganggu keselamatan masyarakat, baik secara ekonomis, politis maupun sosial psikologis.

Sesuai dengan pandangan teori faktor sosial, lingkungan sosial dan kekuatan-kekuatan sosial sebagai faktor penyebab munculnya kejahatan. Seiring dengan berkembangnya teknologi dan meningkatnya pertumbuhan suatu negara, pemerintah berusaha keras untuk membentuk kekuatan baru dalam meningkatkan taraf keamanan. Namun di satu sisi, tingkat kejahatan pun semakin berkembang dengan kualitas perbuatan yang semakin berat pula. Bahkan terkadang kejahatan justru dapat menandingi atau bahkan lebih kuat dari kekuatan hukum.Pada masa modern seperti sekarang ini, tingkah laku kriminal bisa saja tidak lagi dianggap sebagai suatu bentuk kriminalitas sebab hal itu telah membudaya dan sudah menjadi rahasia umum yang dapat ditebak. Biasa terdapat pada praktik-praktik korup, uang pelican/suap untuk mempercepat penyelesaian masalah, bulu bekti/tanda bakti (gratifikasi) kepada atasan demi menutupi perbuatan kriminal.

Gbr. Pembegalan

Dalam teknologi jaringan komputer, kejahatan diistilahkan dengan cybercrime, yakni sebuah perbuatan yang melanggar hukum yang dilakukan dengan perantara internet yang berbasis pada kecanggihan teknologi komputer dan telekomunikasi. Karakteristik kejahatan dunia maya ini pun berbeda dengan kejahatan dunia nyata, baik dari segi ruang lingkup, sifat, pelaku, modus danjenis kerugian.

Masalah kriminal merupakan kenyataan sosial yang hakikatnya seringkali sulit untuk dipahami, karena tidak melihat masalah dari proporsi yangsebenarnya secara dimensional. Peningkatan dan penurunan nilai kriminalitas, baik di daerah perkotaan maupun pedesaan adalah relatif, sebab manusia dan lingkungan sekitar berperan besar dalam penentuan sifat dan sikap.

Gbr. Prostitusi Online dan Terpidana Korupsi

3. Ketidakharmonisan Keluarga.

Keluarga merupakan tempat sosialisasi yang pertama dan utama bagi seorang anak, dan satu-satunya media sosialisasi primer. Oleh karena itu keluarga memiliki peran yang sangat penting bagi pertumbuhan dan pembentukan kepribadian anak. Di dalam keluargalah anak akan mendapatkan dasar-dasar penanaman nilai dan norma sosial. Serta di dalam keluarga seharusnya anak mendapatkan pendidikan dan pengawasan yang lebih baik.

Kenakalan remaja yang terjadi dari waktu kewaktu menunjukkan peningkatan kuantitas dan kualitas. Berbagai kasus kenakalan seperti tawuran pelajar hingga pembunuhan oleh anak usia remaja dinilai salah satunya disebabkan oleh ketidakharmonisan keluarga.

Ketidakharmonisan keluarga juga merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya perilaku menyimpang. Ketidakharmonisan keluarga merupakan perpecahan keluarga sebagai unit, karena anggota-anggotanya gagal memenuhi kewajiban-kewajiban yang sesuai dengan peran sosialnya.

Gbr. Kekerasan dalam rumah tangga

Secara sosiologis, bentuk-bentuk ketidakharmonisan keluarga antara lain
adalah:

  1. Unit keluarga yang tidak lengkap.
  2. Disorganisasi keluarga karena putusnya perkawinan.
  3. Adanya kekurangan dalam keluarga tersebut, yaitu dalam hal komunikasi antara anggota-anggotanya.
  4. Krisis keluarga, oleh karena salah satu yang bertindak sebagai kepala keluarga diluar kemampuannya sendiri meninggalkan rumah tangga,mungkin karena meninggal dunia, dihukum atau karena peperangan.
  5. Krisis keluarga yang disebabkan oleh faktor-faktor intern, misalnya karena terganggu keseimbangan jiwa salah satu anggota keluarga.

Jika ketidakharmonisan keluarga terus terjadi, atau bahkan menjadi lebih banyak keluarga yang kehidupannya tidak harmonis, tidak dapat dipungkiri hal ini akan berdampak buruk bagi negara. Karena selain moral sosial yang rusak, hal ini juga akan berdampak pada kehidupan bernegara, kesemua aspek kehidupan.

4. Kesenjangan Sosial.

Kesenjangan sosial adalah suatu keadaan ketidakseimbangan sosial yang ada dalam masyarakat yang menjadikan suatu perbedaan yang sangat mencolok. Fenomena ini terjadi hampir disemua negara di dunia termasuk Indonesia. Kesenjangan sosial di Indonesia sangatlah terlihat antara yang kaya dan miskin, maupun antara pejabat dengan rakyat. Yang menjadi faktor penyebab terjadinya kesenjangan sosial diantaranya adalah kemiskinan dan kurangnya lapangan pekerjaan.

Kesenjangan sosial menjadi masalah sosial dikarenakan kesenjangan sosial bisa menyebabkan terjadinya kecemburuan sosial. Kecemburuan sosial yang terpendam dalam kurun waktu lama sewaktu-waktu bisa meledak menjadi konflik sosial. Banyak contoh kasus konflik horisontal yang pernah terjadi di Indonesia sebenarnya yang menjadi akar permasalahannya adalah adanya kesenjangan sosial yang berimplikasi menimbun kecemburuan sosial.Kesenjangan sosial ini lebih pada permasalahan sosial ekonomi.

Pada satu sisi ada kelompok masyarakat yang dapat hidup dengan segala kemewahan materi, namun di sisi lain ada kelompok masyarakat hidup dengan segala keterbatasan ekonomi. Hal ini biasanya diikuti dengan kemudahan aksesakses dalam bidang lain yang tidak bisa dinikmati oleh kelompok yang lemah dari segi ekonomi

Gbr. Kesenjangan Sosial

Konflik- konflik horisontal yang pernah terjadi di Indonesia, apakah yang berlandaskan sentiment suku, agama, penduduk asli dan pendatang lebih disebabkan karena masalah kesenjangan ekonomi. Kesenjangan sosial sebenarnya tidak hanya dilihat dari masalah ekonomi saja. Namun juga pada aspek kehidupan lain. Hukum, birokrasi, pendidikan, pelayanan publik. Dan kesenjangan sosial ini selain berakibat munculnya konflik terbuka, memberikan dampak pada keretakan relasi sosial. Munculnya stigma, prasangka-prasangka, sentiment, rasa tidak puas yang berujung tumbuhnya kecemburuan sosial yang akut.

5. Peperangan.

Sosiologi menganggap peperangan sebagai suatu gejala yang disebabkan oleh berbagai faktor. Peperangan merupakan satu bentuk pertentangan dan juga suatu lembaga kemasyarakatan. Peperangan mengakibatkan disorganisasi sosial dalam berbagai aspek kemasyarakatan, baik bagi negara yang ke luar sebagai pemenang, apalagi bagi negara yang kalah.

Gbr. Korban Perang

Peperangan pada masa sekarang biasanya merupakan perang total, yaitu tidak hanya angkatan bersenjata yang terlibat, namun seluruh lapisan masyarakat, misalnya diberlakukannya suatu embargo dalam bidang tertentu.

Perang selalu menyisakan persoalan yang berkepanjangan. Retaknya hubungan sosial, bahkan mungkin dendam berkepanjangan yang sulit dihentikan. Selain tentunya korban harta bahkan nyawa. Trauma terhadap anakanak menjadi persoalan tersendiri yang dapat mewarnai perkembangan kepribadian anak-anak korban perang. Serta persoalan kemanusiaan lainnya, seperti pengungsi, pemenuhan kebutuhan pangan, dan pendidikan.

Peperangan jika dilihat dari lembaga sosial termasuk unsanctioned institutions, lembaga sosial yang tidak dikehendaki oleh masyarakat, namun tetap ada dan hidup ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Bahkan negaranegara seperti berlomba memperkuat angkatan perang dan teknologi persenjataannya. Seringkalipula peperangan ini menjadi pilihan untuk menyelesaikan persoalan baik yang berskala nasional apalagi internasional.

6. Kependudukan.

Penduduk suatu Negara, pada hakikatnya merupakan sumber yang sangat penting bagi pembangunan, sebab penduduk merupakan subyek sertaobyek pembangunan. Salah satu tanggung jawab utama negara adalah meningkatkan kesejahteraan penduduk serta mengambil langkah-langkah pencegahan terhadap gangguan memperoleh kesejahteraan. Karena Kesejahteraan penduduk mengalami gangguan oleh perubahan-perubahan demografis yang seringkali tidak dirasakan. Di Indonesia masalah kependudukan yang masih membelit adalah persebaran penduduk, meskipun tingkat kelahiran mulai bisa dikendalikan, dan yang masih sering disebut-sebut adalah kualitas SDM yang rendah.

Secara umum penduduk adalah masyarakat yang tinggal atau mendiami suatu wilayah tertentu. Dalam sosiologi penduduk merupakan kumpulan manusia yang menempati wilayah geografi dan ruang tertentu. Masalah kependudukan bisa disebut juga sebagai masalah sosial karena masalah itu terjadi di lingkungan sosial atau masyarakat. Masalah tersebut bisa terjadi kapan saja dan dimana saja, baik di negara maju maupun di negara yang sedang berkembang seperti negara Indonesia. Masalah kependudukan bisa terjadi oleh faktor-faktor tertentu, salah satunya adalah karena perkembangan penduduk yang tidak seimbang. Kemudian berkembang memunculkan masalahmasalah lain seperti kemiskinan, kesehatan, pendidikan dan masalah lain yang umumnya timbul akibat masalah perkembangan penduduk yang tidak seimbang.

Gbr. Pencari Kerja

Masalah kependudukan terbagi dalam dua garis besar yaitu, masalah kuantitas dan kualitas.

  1. Permasalahan kuantitas diantaranya:
    a. Jumlah penduduk.
    b. Pertumbuhan penduduk.
    c. Kepadatan penduduk.
    d. Komposisi penduduk.
  2. Gbr. Kepadatan Penduduk
  3. Permasalahan kualitas diantaranya:
    a. Masalah tingkat pendidikan.
    b. Masalah kesehatan.
    c. Masalah tingkat penghasilan/pendapatan.
Gbr. Pelayanan Kesehatan

7.Kebodohan.

Salah satu dampak negatif dari kebodohan adalah orang akan mudah untuk diperalat oleh orang lain. Selain itu kebodohan akan membawa orang sulit meraih cita-cita yang tinggi. Kebodohan bisa disebabkan oleh pendidikan yang rendah ataupun kurangnya pemerataan pendidikan.

Meskipun tidak bisa dibilang masyarakat Indonesia masih terbelenggu kebodohan, namun dari hasil survey yang dilakukan oleh beberapa lembaga survey menempatkan kualitas SDM Indonesia masih rendah. Masyarakat kurang mampu, serta masyarakat yang terisolir secara geografis merupakan anggota masyarakat yang rentan terhadap masalah ini. Karena sulitnya memperoleh akses pendidikan yang layak.

Maju dan tidaknya sebuah negara sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Maka jika sebuah negara ingin menjadi negara yang maju dan modern harus memiliki kualitas sumber daya manusia yang berkualitas. Itu semua hanya bisa diraih melalui pendidikan. Akan sangat kesulitan sebuah negara bisa menjadi negara yang maju jika masyarakatnya masih terbelenggu dalam kebodohan.

Gbr. Masalah Pendidikan